Turungtarangtaktakbletakgedubrakgedabrukpletakukuruyuk 😊🍀

 


Desember 2015


Kenangan yang indah.🌻

Hal yang membuatku berhenti jadi robot akademik dan menjadi manusia utuh. Menjadi sosok Anggia yang tidak spektakuler secara angka raport, dan hal sejenisnya,  namun dapat hidup secara wajar dan humanis. 

Ah, anak-anak dan sebagian remaja yang beririsan kuat dengan dunia pendidikan. Cinta. Kasih. Empati. Keterhubungan. 

Aku iseng membuka galeri fotoku yang sudah ribuan jumlahnya dan menemukan gambar tersebut. Foto itu membuatku sangat emosional dalam arti terharu bahagia penuh rasa syukur menengok ke belakang perjalanan hidupku selama 10 tahun terakhir. Izinkan aku memaknai kenangan lampau ini dengan cara yang baru.

-

-

Pilihan sadar melakukan hal simbolis, yakni  transformasi brutal dari "Wisnu" menjadi "Anggia" adalah hal yang sangat aku syukuri membawaku pada sesuatu yang genuine dan selaras dengan nilai batinku yang lama terpendam oleh tekanan performatif harus jadi hebat, unggul, dan brillian terutama dalam hal akademik. Padahal, itu semua bukan inti dari hatiku. Aku muak karena kesejatianku sebagai manusia direduksi dengan performa angka di atas kertas. Aku sempat ada di titik semakin membenci diri sendiri dan hampir saja membenci total kehidupan.

Aku bersyukur keluar dari lingkungan gila nan keparat (aku takkan menyebut apa lingkungan itu. Takkan pernah) yang menekan sisi kemanusiaanku dengan hal klise seperti performa angka di atas kertas dan keindahan superficial yang dipertontonkan dan seolah diagungkan, yang sejatinya padahal akan digerus waktu. Ya, untung aku bisa keluar tepat waktu dari tempat gila nan keparat itu. Mungkin hanya sedikit hal yang benar-benar aku nikmati dan membuatku bahagia dari lingkungan gila itu. Begitulah. Dan semua itu sudah berlalu. Aku tidak menginginkan ada revisi apapun lagi. Sedikit hal saja yang masih aku bawa dari masa itu, dan sebagian besar, biarlah. Ada satu pengalaman juga yang membuka alam bawah sadarku untuk jujur pada diri sendiri dan lebih manusiawi pada diriku sendiri. Belum lama, aku membuang cangkir indah yang sudah pernah pecah di masa lampau dan aku lem sana sini, karena merasa sayang begitu indahnya cangkir itu. Benar, cangkir yang dulu sudah pecah, meski sudah dilem sempurna...nyatanya tetap retak sana sini. Sejatinya itu sudah bukan cangkir lagi, dan kini cangkir itu sudah aku buang. Mungkin memang hal itu sejak lama mestinya aku lakukan jika berani jujur pada diri sendiri, dan tidak merasa "gak enakan" menyakiti seseorang yang nampak rapuh, namun kenyataannya masih saja melukaiku tanpa sadar. Namun, tak apa. Itu jadi suatu pola yang aku pelajari dan bukan omong kosong teori semata. Cangkir yang sudah pecah, meski dilem sana sini, kenyataannya sudah tak bisa lagi digunakan untuk alat minum. Empati harus diarahkan pada hal yang tepat. Pada siapapun yang secara nyata menderita, bukan kepada orang yang merasa menderita...yang padahal semua rasa kosongnya adalah akibat dari keputusan sadarnya sendiri. Aku tidak respek dengan orang yang hidupnya baik-baik saja namun merasa dirinya paling menderita di dunia dan diam-diam mengutuk dirinya sebagai orang yang malang dan tak berdaya, sedangkan masih banyak orang yang menderita secara nyata namun memilih berjuang dengan penuh harga diri dan rasa syukur pada hidup. Ya, biarlah sudah berakhir dan memang harusnya begitu. Kini, aku bisa melihat semua hal yang sudah berlalu itu lewat kaca spion dengan perasaan tenang dan penuh kelegaan. Semua itu sudah jadi arsip berdebu yang sudah tidak relevan dengan hidupku sekarang. 

Aku masuk ke sebuah lingkungan baru yang lebih humanis. Bebas. Yang terpenting tidak mengintimidasi identitas asliku sebagai manusia utuh dengan kompleksitas batin. Apa yang aku lalui di lingkungan baruku kala itu, membuatku utuh sebagai manusia yang selaras dalam kemampuan intuisi + logika + perasaan + menerima realitas konkret. Turun dari menara gading dan menyentuh bumi. Berpijak. Melangkah di antara hamparan ladang. Berlari dengan mata tertutup dengan ekspresi wajah tersenyum sembari menikmati hembusan angin yang menerpa wajahku.

Jika ada sebuah pertanyaan, kapan waktu di mana dirimu merasa ada di titik paling cantik sebagai wanita? Hmmm... bicara penampilan, mungkin aku di usia dewasa kini secara objektif memang lebih oke. Namun, aku merasa jiwaku paling cantik menjelang usia 19 tahun. Seperti ada ledakan energi secara eksplosif yang memancar dari dalam. Aku bisa memberi cinta kepada orang yang secara nyata menghargai energi itu, tanpa dihakimi serampangan dan aku pun menerima begitu banyak cinta yang tulus. Aku begitu ceria natural dan bahagia karena menemukan makna. 

Bukan artinya kini aku tak bahagia. Hanya saja, aku merasa kala itu, aku masih bebas jadi sosok Anggia yang jauh lebih polos dan terkesan ceroboh. Energiku jauh lebih meledak dibandingkan sekarang. Ah, masa muda yang aku syukuri begitu indah dan kini aku kenang dengan rasa tangis haru bahagia.

Hidup memang memaksa kita untuk bertumbuh. Tak bisa seumur hidup kita berlindung dengan cara lama. Manusia dinamis. Tidak boleh stagnan. Jelas Anggia versi 19 tahun tidaklah sama dengan Anggia versi 29 tahun. Dan Anggia 39 tahun nanti (kalau masih diberi umur) haruslah lebih baik daripada Anggia sekarang. Bertumbuh memanglah tak mudah. Prosesnya menyakitkan dan memakan waktu lama. Namun, aku pikir kita bisa disebut sebagai manusia karena kemauan keras kita untuk bertahan menghadapi proses bertumbuh yang memanglah sakit dan tak mudah. Bicara tentang bagaimana rasanya bertumbuh? Ya, sakit. Sungguh sakit. Namun, hidup ini memang memaksaku tak  bisa jadi diri yang sama seterusnya. Lelah? Ya, sering aku rasakan, tetapi waktu terus berjalan menuntut aku menjawab daftar pertanyaan hidup. Hidup ini memang tak nyaman bagiku. Aku jauh dari kata sudah sangat baik. Namun, tak ada pilihan realistis lainnya bagiku selain "Evolved".

-

-

Aku tidak menyesali keputusan apapun yang pernah aku buat di masa lampau. Aku tidak membenci hal menyedihkan yang pernah aku alami karena penilaian, tindakan, dan perkataan orang-orang di masa lampau ketika aku masih bocah-menjelang usia dewasa awal terhadapku. Kenapa? Semua itu mengantarkan aku menjadi sosok Anggia. Tanpa semua itu, takkan ada Anggia usia menjelang 19 tahun kala itu. Lalu, takkan ada Anggia yang kini berusia hampir 30 tahun dengan segala ke-absurdannya. Dan tanpa sedikit hal indah dan banyak hal tragis yang pernah aku rasakan kala aku berusia sangat muda (remaja) aku takkan pernah bertemu dengan orang-orang yang bagiku keren. Tanpa masa lalu yang demikian, aku takkan bertemu dengan "Eddie" (INFJ jumper Ni-Ti, 1w2, tritype 154, Sx/Sp) kala usiaku hampir 19 tahun. Sosok yang bagiku kedudukannya kini setara dengan ibu, nenekku, dan adikku. Orang yang kini ada di dalam inti hatiku. Dia boleh saja tiada lagi di dunia ini, namun dia kini hidup sebagai pondasi batinku. Dia jadi bagian dari caraku memandang kehidupan.

Kebenaran memang tidak langsung menang, bahkan seringnya memang kalah di dunia ini. Namun, kebenaran takkan salah. Tak peduli seberapa lama rahasia itu terpendam, pada akhirnya Semesta membukakan jalan tak terduga di mana aku akhirnya mengetahui hal yang seharusnya aku ketahui. Ya, meskipun aku sudah sangat terlambat mengetahuinya. Namun, aku tetap bersyukur untuk itu. Mengetahui kebenaran/rahasia perasaannya yang dia simpan tentangku karena demi kebaikanku. Perasaan yang amat indah dan tenang. Jauh dari ego rasa ingin memiliki.

Sebuah hukum fisika yang sudah umum diketahui, yaitu:

Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan. Energi hanya dapat berubah bentuk.

Aku memandang kita semua adalah kesatuan Semesta yang tak terhingga. Semakin aku bertambah tua, sebenarnya aku sudah merasa tidak relate sepenuhnya dengan konsep ketuhanan yang digaungkan kelompok agama A B C (gak mau sebut merk-nya apa saja). Hanya saja, dalam keseharian di lingkungan luar saat bercengkrama dengan orang luar (termasuk teman dekat) aku memilih diam demi menjaga hubungan baik, karena aku tahu pemikiranku masih sangat sensitif bagi kebanyakan orang Indonesia.

Aku memandang sejatinya kita adalah kesatuan energi yang takkan pernah berakhir. Kita hanya berubah-ubah bentuk mengikuti siklus kehidupan tak terbatas yang kekal.

Aku memandang "Eddie" sebagai energi. Kekal. Abadi. Dia hanya berubah bentuk. Dia kini bertransformasi menjadi pondasi batinku, yang aku bawa dalam diri ini seumur hidupku. Sama seperti yang aku lakukan pada nenekku yang juga telah tiada.

Aku bersyukur di kehidupan ini, aku memiliki ibu, nenek, dan adik di hidupku. Mereka bukan hanya keluarga secara ikatan darah, mereka juga keluarga secara batin. Banyak di luar sana yang secara takdir terikat dengan ikatan darah, makanya disebut keluarga, namun tak benar-benar terkoneksi kuat secara batin.

Entah bagaimana aku merasakan hal serupa pada "Eddie". Ada perasaan tenang yang jika diingat sulit didefinisikan dengan kata lain yang padanannya lebih tepat. Sistem sarafku seperti rileks dan jauh dari kata tegang. Rasanya seperti sangat familiar dan sejak awal obrolan jauh dari basa basi dan tekanan performatif sosial. Aku cukup hadir sebagai Anggia tanpa embel-embel apapun. Mungkin karena itulah tanpa disadari, aku begitu menghormati dia dengan tenang selama lebih dari 10 tahun berjalan.

Aku berpikir kehidupan di Semesta ini begitu luas nan kompleks. Tidak hanya kehidupan yang ada di dunia ini. Ada kehidupan paralel lain yang juga berjalan. 

Ya, jika kelak aku hidup lagi di kehidupan ini (reinkarnasi) atau dimensi kehidupan yang lain, lalu... "Eddie" juga ada di kehidupan yang sama denganku... Aku harap Semesta membuat kami saling bersinggungan kuat lagi pada kehidupan tersebut. Aku tidak berharap "Eddie" jadi pasanganku atau keluarga darahku. Aku tidak ingin mendikte Semesta. Biar Semesta yang atur. Aku ingin tetap bersinggungan kuat dengan ibu, nenekku, adikku, dan "Eddie" jika kebetulan Semesta menempatkan kami di sebuah kehidupan yang sama, berikut timeline-nya. Aku ingin kami tetap saling bersinggungan kuat untuk tetap saling memberi pengaruh kuat (saling mendukung satu sama lain) energi kebaikan dan kasih (cinta) di kehidupan yang mesti dijalani.

-

-

Aku tak punya narasi WHAT IF alias ANDAIKAN DULU. Bagiku semua itu ilusi semata atas kegagalan mengakui kesalahan atau kelemahan diri. Faktanya, ada hal yang bisa aku kendalikan sendiri (ini yang harus dievaluasi) dan memang ada hal yang di luar kendaliku sendiri (ini harus diterima).

Memikirkan narasi WHAT IF takkan ada habisnya. Saat aku ambil keputusan A, suatu saat aku seolah menyesali kenapa dulu tak ambil keputusan B, karena keputusan A yang pernah aku ambil berjalan tak sesuai apa yang aku inginkan dalam angan muluk-muluk.

Lantas, apakah kalau dulu aku ambil keputusan B dan bukan A... maka di kemudian hari tak ada penyesalan? Aku rasa tidak. Pasti tetap saja ada. Beda bunyinya saja. Namun, polanya sama. Waktu hidupku amatlah terbatas dan disediakan opsi memilih pilihan hidup yang beranekaragam, yang sayangnya hanya bisa aku pilih 1 jalan. Aku tak bisa memilih banyak hal sekaligus dan aku harus menerima fakta pahit ini. Pada akhirnya, cukup jalani pilihan yang sudah dibuat dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab. 

Nasi sudah jadi bubur? Ya sudah, tambahkan saja kuah kaldu ayam berbumbu gurih. Taburi suwiran ayam goreng. Taburi juga potongan daun seledri dan kacang goreng. Tambahkan sedikit kecap manis dan 2 sendok sambal. Lalu, tambahkan toping kerupuk dan 3 tusuk sate usus + telur puyuh + jeroan ayam (hati, ampela, jantung). Selesai. Jangan berandai konyol ingin mengubah bubur itu jadi nasi lagi.

Aduh, mie instan yang aku masak terlalu "lodoh". Berharap mie instan itu kering lagi dan bisa dimasak lagi agar matang kenyal ideal, bagiku itu khayalan konyol. Ya sudahlah, tambahkan saja kornet, telur rebus 2 butir, saus yang banyak, dan sawinya yang banyak. Tambah keju juga bisa. Lodohnya tidak akan jadi masalah lagi dan tetap cukup enak dimakan. Tak perlu disesali.

-

-

Hidupku tidak selalu mulus. Banyak perjalanan gagalnya. 

  • Ditolak ngajar di salah satu bimbel (tidak mau sebut nama) karena waktu seleksi akhir aku nge-blank dengan materi ajar. Wajarlah kalau ditolak. Hmmm.. ini kejadian sekitar pertengahan tahun 2019. 
  • Aku pernah ditolak seleksi pertukaran pelajar ke Prancis, karena waktu itu bahasa Prancisku masih tergolong di bawah standar. Memang dasar aku yang nekat binti "ndablek" berani mempermalukan diri dengan skill bahasa Prancis yang "ngehe parah". Ini terjadi sekitar akhir tahun 2017. 
  • Aku juga pernah ditolak casting. Ini kejadian awal tahun 2019. Ceritanya sok kepedean merasa diri ini cantik banget seperti aktris idolaku, yakni Song Hye Kyo. Aku mencoba² mengukur "seberapa cakep wajah gue"... Tanpa peduli ada syarat tertulis dengan jelas: TINGGI BADAN WANITA MINIMAL 160 CM. Jelas tinggi badanku kurang 10 cm alias TIDAK MEMENUHI SYARAT. Hebat kan muka tembok +  "ndablek-nya"? 🗿 

Dan masih baanyaaakkk lagi. 🤣👍

Sumber: Pinterest
Foto Song Hye Kyo ketika jadi bintang tamu di Podcast Yoo-Jae Suk yang ditayangkan awal tahun 2025 di YouTube.
Kenapa harus Song Hye Kyo? Iya, aku tahu yang lebih cantik dan lebih muda, buaanyaakk. Yang lebih bertalenta juga ada cukup banyak. Hmmm... Bagiku, dia konsisten bekerja keras dan tahan menghadapi proses "menyakitkan" dalam jangka waktu lama untuk bertumbuh semakin baik secara personal & profesional. Dia bukan tipikal orang yang mudah menyerah, bahkan di titik terendah yang pernah dihadapinya. Aku merasa sangat relate dengan hal itu secara pribadi.😊


Aku menjalani eksplorasi usia muda seperti air yang mengalir. Gagal? Ya sudah. Lebih baik gagal daripada menyesal dan penasaran karena tak pernah mencoba. Kini banyak pengalaman gagal itu bisa aku tertawakan dengan santai. Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, Semesta-lah yang menentukan hasilnya. Kadang linear dan kadang bisa absurd dan membuatku sendiri menangis sesenggukan di pojokan. Yah, tak apa... toh tidak mungkin seumur hidup menangis. Sekarang nangis, lalu besok tertawa bahagia.

Hidup ini nano nano rasanya. Manis. Asam. Asin. Pahit. Pedas. Sepet. Hambar. 

Sehari-hari pun kita tidak mungkin seumur hidup hanya makan ketoprak. Ada kalanya sayur sop. Rawon. Nasi uduk. Nasi kuning. Pecel ayam. Gurame bakar. Sayur asem. Bakso. Nasi goreng. Kebab. Dan masih banyak lagi. Begitulah kehidupan dengan segala siklus perasaan yang datang silih berganti menawarkan rasa hidup yang berbeda-beda dan mesti kita cicipi bergantian.

Hmmm... ini tulisan entah kenapa kesannya makin random tak karuan. 🗿

Aku akhiri saja sampai di sini sebelum makin aneh. 🍀





Sumber: Instagram @cryingkeyboard

-

-

-

Dah ah randomnya. Aku mau dengerin ini aja biar agak waras. 

Pearl Jam — Just Breathe 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMIKONDUKTOR

Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa

3 Macam Interaksi Cahaya pada Materi